Kamis, 16 Februari 2012

Makna Peringatan Maulid Nabi


Peringatan maulid adalah upaya mengenang hari kelahiran Nabi Muhammad
SAW. Tentu saja tidak hanya mengingat hari lahir beliau. Tapi juga
mengingat jasa-jasa beliau yang telah menyebarkan agama Islam ke
seluruh dunia termasuk kepada kita. Ingat juga pada sifat-sifatnya
yang luhur budi, penyabar, rendah hati dan lain – lain. Sikapnya yang
tegas menyebarkan dakwah Islam patut kita teladani. Makna peringatan
maulid adalah menyegarkan kembali ingatan kita akan ajaran Nabi dan
kita harus siap untuk melaksanakannya.
Memperingati hari lahir tidak boleh hanya sebagai kegiatan ritual
semata. Tapi harus diaplikasikan atau diwujudkan dalam aktivitas nyata
kita di kehidupan sehari-hari. Jika ada yang memperingati maulid
dengan menyediakan makanan dan buah-buahan itu oke – oke saja dan
tentu saja halal. Yang paling penting adalah niatnya. Karena segala
sesuatu itu tergantung pada niat kita. Menyiapkan makanan dan
buah-buahan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW tentu
sangat baik. Niatnya tentu saja adalah untuk memperbanyak sedekah
kepada orang yang kita undang untuk peringatan maulid. Jika kita mampu
mengapa kita tidak ajak orang berkumpul sambil membaca shalawat
setelah itu menghidangkan makanan ala kadarnya sesuai dengan
kemampuan.
Dengan Peringatan Maulid Nabi bisa mengingatkan kita untuk selalu
membaca shalawat ( doa keselamatan untuk Nabi ) karena membaca
shalawat mengandung manfaat dan keutamaan. (")

Apakah Kita Merayakan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?
Sesungguhnya di antara sesuatu yang paling wajib untuk diyakini oleh
seorang mukmin adalah keimanan yang kuat dan pasti bahwa Allah
subhanahu wata’ala sudah menyempurnakan syari’at ini dengan diutusnya
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, serta Allah ‘azza wajalla
telah menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya kepada kita dengan diutusnya
beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tidak boleh bagi seorang pun setelah meninggalnya Al-Musthafa
(Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) untuk menambah dan
mengurangi tuntunan dan risalah yang sudah ditetapkan dalam syari’at
agama ini.

Allah ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ
نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا.

“Pada hari telah telah Aku sempurnakan agama kalian dan Aku cukupkan
bagi kalian nikmat-nikmat-Ku dan Aku ridha Islam menjadi agama
kalian.”(Al Maidah: 3)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تَرَكْتُكُمْ عَلى الْبَيْضَاء لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغُ
عَنْهَا بَعْدِيْ إِلاَّ هَالِكٌ .

“Aku tinggalkan kalian dalam keadaan putih bercahaya, keadaan malamnya
seperti siangnya, dan tidaklah seseorang berpaling darinya kecuali
pasti binasa.”(HR. Ibnu Majah)[1]

Oleh karena itulah, sudah seharusnya bagi seorang mukmin yang
menginginkan keselamatan dan menempuh jalan beliau shallallahu ‘alaihi
wasallam, untuk mencukupkan diri dan ibadahnya dengan apa yang telah
disyari’atkan oleh Allah ‘azza wajalla melalui lisan Rasul-Nya
shallallahu ‘alaihi wasallam, serta tidak ridha bagi dirinya dan juga
orang lain siapapun dia untuk membuat syari’at (baru) di dalam agama
Allah, dan menganggap sesuatu itu baik hanya berdasarkan akal dan hawa
nafsunya yang Allah tidak mengizinkannya.

Pencari kebenaran adalah orang yang cinta sunnah, tidaklah dia beramal
dengan suatu amalan apapun, baik dalam bentuk perayaan-perayaan,
momen-momen tertentu, ibadah, ataupun yang lainnya kecuali sesuai
dengan bentuk amalan yang diizinkan oleh Allah, terkhusus ketika
amalannya tadi dimaksudkan untuk beribadah dan mengharap pahala dari
Allah subhanahu wata’ala.

Sehingga dari sini, kita memahami maksud perkataan para ulama
“Al-Ibadatu Tauqifiyyatun.”, tidak ada kesempatan bagi akal ini untuk
membuat syari’at dan istihsan (menganggap baik) suatu amalan, maupun
menjelekkannya.

Jika engkau menginginkan dalil-dalilnya, maka sesungguhnya dalilnya
sangat banyak, di antaranya adalah firman Allah ‘azza wajalla:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ.

“Dan apa-apa yang kalian perselisihkan dalam suatu perkara, maka
kembalikanlah hukumnya kepada Allah (Al-Quran).” (Asy-Syura: 10)

Dan firman-Nya:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ
اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ.

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Kalau kalian mencintai Allah maka
ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mngampuni
dosa-dosa kalian.” (Ali Imran: 31)

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ .

“Barang siapa yang mengada-adakan suatu amalan yang tidak ada
(perintahnya) dalam syari’atku, maka menjadi amalan yang tertolak.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)[2]

Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

“Hati-hatilah kalian dari perkara yang baru, karena setiap perkara
yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu
Dawud dan Ibnu Majah)[3]

Dan aku berharap untuk kalian mencukupkan dengan pensyari’atan pada
diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa tidaklah beliau
mengucapkan dari hawa nafsu semata, melainkan dari wahyu yang
diwahyukan kepada beliau.

Sabda beliau: “Setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap
bid’ah adalah sesat.”

Sabda beliau ini tidak samar bagi kita bahwa kata “kullu” (setiap)
adalah bermakna umum (menyeluruh), maka mencakup semua bid’ah (yang
diada-adakan) tanpa terkecuali.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Ikutilah (petunjuk Rasulullah) dan janganlah mengada-ada, niscaya
cukup bagi kalian!”

Wahai saudaraku mukmin … Jika engkau sudah memahami dan menerima
aqidah ini dengan patuh dan disertai pembenaran, maka engkau akan bisa
menilai bahwa suatu amalan, perkataan, atau perbuatan itu sesuai
dengan tuntunan syari’at atau tidak, sunnah ataukah bukan sunnah
dengan prinsip dan timbangan ini.

Kami akan memberikan permisalan kepada engkau tentang perayaan maulid
(kelahiran) nabi kita, habibuna, imamuna, qudwatuna, penuntun kita
kepada jalan yang lurus, sayyidul mursalin.

Kita perlu mendiskusikan masalah ini dengan adil dan seimbang, serta
lepas dari dorongan hawa nafsu yang didasarkan pada akal semata, dan
kita menimbangnya dengan timbangan syariat serta mengembalikannya
kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
karena beliau bersabda:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى
مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
.

“Sebaik-baik ucapan adalah kalamullah ( Al Quran) dan sebaik-baik
petunjuk adalah petunjuk Rasulullah, dan sejelek-jelek perkara adalah
yang diada-adakan, dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan
setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim)[4]

Rasulullah telah mewasiatkan kepada kita dengan sunnah-sunnahnya untuk
mengikuti petunjuk sebaik-baik manusia (Rasulullah), ketika beliau
bersabda:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : خَيْرُ
النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ
يَلُونَهُمْ .

“Sebaik-baik generasi adalah generasiku (masa shahabat) kemudian
setelahnya (masa tabi’in), kemudian setelahnya (masa tabiut tabi’in).”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)[5]

Allah-lah Dzat satu-satunya untuk kita memohon kepada-Nya agar
menunjukkan kepada kita bahwa kebenaran sebagai sesuatu yang benar
serta memberikan kemudahan bagi kita untuk mengikutinya, serta
menunjukkan kepada kita bahwa kebatilan sebagai suatu kebatilan, dan
memohon agar kita dijauhkan darinya.
(")

0 komentar:

Poskan Komentar